Pembahasan Lagu Ayang Ayanggung

Pembahasan Lagu Ayang Ayanggung - Halo sahabat Belajar Bahasa sunda pada postingan sebelumnya admin sudah membagikan salah satu contoh kawih murangkalih yang paling populer yaitu kawih ayang ayanggung, Nah pada kesempatan kali ini admin akan membahas tentang lagu tersebut karena lagu tersebut terlihat biasa saja namun ternyata mengandung makna yang tersurat atau ada pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya.

Sebetulnya Pembahasan Lagu Ayang -Ayanggung ini sudah pernah diposting pada situs kalangsunda.net. Berikut adalah Pembahasan lagu ayang ayanggung


DR. H. Ihwan D. Natapradja, Girang Pupuhu SKKS.Sawala Kandaga Kalang Sunda

AYANG AYANG GUNG

Ki Mas Tanu (Tanuwijaya) di Balik Ayang-ayang Gung

Sebagai refleksi Kritik Nasihat dan Sindiran

Kepada Para Pemimpin



Pendahuluan

Lagu ”Ayang-ayang Gung” terdengar biasa-biasa saja. Akan tetapi, bila diingat sifat pemerintah pada waktu itu ( kompeni) yang represif, penulis lagu tersebut bukan saja sangat berani, melainkan juga sangat cerdik dalam menyiasati sikap represif tersebut.Dengan irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sungguh tidak dapat diragukan.

Kini lagu atau kawih Ayangt-ayang Gung, telah menjadi Kaulinan (permainan), dan seperti yang kita ketahui bahwa Kaulinan Urang Sunda tidak sekadar kreativitas atau pengisi waktu luang bagi anak-anak, tetapi memiliki makna filosofi yang luar biasa. Setiap kaulinan melambangkan kesadaran individual, kesadaran sosial, dan kesadaran spiritual.

Mohamad Zaini Alif, S.Sn., M.Ds., mengatakan : "Setiap jenis kaulinan selalu melambangkan kehidupan manusia yang disembunyikan baik lewat bentuk maupun kata-katanya,".Zaini juga menerangkan, kata-kata dalam kaulinan selalu sarat makna. Misalnya dalam "Ayang-ayang Gung". Ayang-ayang gung, gung goongna rame, menak Ki Mastanu, nu jadi wadana, naha maneh kitu, tukang olo-olo, loba anu giruk, ruket jeung kompeni, niat jadi pangkat, katon kagorengan, ngantos kangjeng dalem, lempa lempi lempong, ngadu pipi jeung nu ompong, jalan ka Batawi ngemplong. Makna dari bait tersebut, sebagai sindiran terhadap para penjilat dan orang yang suka ber-KKN yang ingin mendapatkan kedudukan. Perbuatan tak ubahnya bagai ngadu pipi jeung nu ompong.

Bila kita renungkan, lagu itu merupakan protes sarkastis terhadap tingkah laku seorang petualang politik, Ki Mastanu, yang menghalalkan segala cara demi ambisinya. Terlepas apakah tokoh itu benar-benar ada atau fiktif.

Bentuk sastra ”Ayang-ayang Gung” pun istimewa. Berbeda dengan bentuk-bentuk puisi yang dikenal di Indonesia, seperti pantun, gurindam, syair, dan sebagainya. Kalau diperhatikan, suku kata terakhir pada kalimat lagu itu menjadi suku kata awal di kalimat berikutnya. Sungguh tingkat kesulitan yangsophisticated. Setahu penulis, bentuk ini tidak dikenal dalam pelajaran sastra Indonesia, bahkan di dunia (?). Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pencipta ”Ayang-ayang Gung” merupakan local genius.

Makna kawih Ayang-ayang Gung

Ayang ayang gung

Gung goongna rame

Menak ki Mastanu

Nu jadi wadana

Naha maneh kitu

Tukang olo-olo

Loba anu giruk

Ruket jeung kompeni

Niat jadi (naek) pangkat

Katon kagorengan

Ngantos Kanjeng Dalem

Lempa lempi lempong

Ngadu pipi jeung nu ompong

Jalan ka Batawi ngemplong

Ayang-ayang Agung adalah nyanyian anak-anak. Biasanya kakawihan ini menurut Ensiklopedi Sunda(2000: 70-71) biasa dipakai dalam permainan anak-anak, serta mempunyai pengertian bekerja sama.Selain itu, menurut buku yang disebut-sebut sebagai pelopor ensiklopedi etnis pertama di Indonesia ini, Ayang-ayang Gung memiliki beberapa keistimewaan. Di antaranya: dalam liriknya. Yaitu akhir suku kata dari kalimat lagu diulang kembali sebagai awal suku kata pada larik berikutnya. Dan suku kata akhir setiap larik menjadi suku kata pertama larik berikutnya. Dengan demikian anak-anak mudah menghapalkannya.

Lagu tersebut merupakan lagu yang secara turun temurun dinyanyikan oleh barudak (anak kecil) di Tatar Sunda. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan orang Sunda yang suka menyindir, ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai biasanya memberikan sindiran-sindiran halus. Sehingga tidak sedikit karya-karya baik itu berupa lagu kakawihan, pupuh, maupun pantun (sisindiran) yang lucu, namun juga mengandung sebuah kritik atau saran yang tajam dan brilian yang disampaikan secara halus.

Lagu Ayang Ayang Gung tersebut menceritakan seorang tokoh menak (bangsawan) bernama Ki Mastanu yang menjadi wadana (bupati), namun bertingkah olo-olo (belagu), dan karena kedekatannya dengan kompeni (Belanda) banyak masyarakat yang giruk (membencinya). Yang berniat naik pangkat, sehingga menunggui kanjeng dalem, dan dengan segala gerak akrobatik politiknya menghalalkan segala cara, agar langkah politiknya lancar tidak terhambat sedikit pun ke Batavia.

Akan tetapi, terlepas dari masalah keistimewaan di atas, Ayang-ayang Gung bila ditinjau dari isinya memang berisi tentang kritik yang lumayan pedas. Kritikan itu, terutama ditujukan kepada menak yanggumede, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.Tokohnya tentu saja Ki Mas Tanu. Tokoh ini digambarkan sebagai tukang olo-olo. Akibat kelakuan ini orang-orang kebanyakan menjadigiruk. Sebab selain olo-olo, Ki Mas Tanu juga ruket jeung kompeni. Langkah ini tentu saja diambilnya karena mempunyai niat ingin menjadi pembesar.Tetapi walaupun banyak yang tahu tentang Ayang-ayang Gung, mengenai tokoh Ki Mas Tanu agaknya jarang tahu. Padahal tokoh ini diyakini pernah hidup di Tatar Sunda dahulu kala ketika Belanda mengusai negeri ini.

Siapakah Ki Mas Tanu (Tanuwiaya) ?

Ki Mastanu yang ada dalam lirik lagu Ayang Ayang Gung adalah Raden Tanujiwa, seorang Sunda asal Sumedang. Tahun 1687 Tanujiwa mendirikan perkampungan di Parung Angsana, sebelumnya beliau mendapat tugas dari Camphuiis untuk membuka hutan Pajajaran. Kampung di Parung Angsana itu kemudian diberi nama Kampung Baru, tempat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor. Beberapa kampung lain yang didirikan oleh Raden Tanujiwa adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dimana Kampung Baru menjadi pusat pemerintahannya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai kepala Kampung Baru dan kampung lainnya yang berada di hulu Ciliwung. De Haan sendiri memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari Raden Tanujiwa (1687-1705) walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik dilakukan tahun 1745. Tahun 1745 sembilan buah kampung digabung menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru bergelar Demang, gabungan kampung itu diberi nama Regentschap. Yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg tahun 1740. Tanujiwa, seorang Sunda dari Sumedang, berhasil membentuk pasukan pekerja untuk membuka hutan Pajajaran. Ketika itu beliau bergelar ”Luitenant der Javanen” (letnan orang-orang Jawa dan merupakan letnan senior diantara teman-temannya). Garis batas antara daerah pemukiman orang-orang Banten dan kompeni ketika pangeran Purbaya dari Banten membangun pemukiman di aliran Cikeas. Daerah antara Kedung Badak sampai Muara Beres telah ditempati pasukan Mataram, pimpinan Bahurekso dan sebagian lagi pasukan kiriman Sunan Amangkurat I.

Tahun 1661 basis pasukan Rakit Mataram ketika mengepung Batavia. Raden Tanujiwa menghentikan pembukaan lahannya pada sisi utara Ciliwung, dan menyarankan agar pembukaan lahan dilakukan di sebelah hulu (Ciawi dan Cisarua). Kemungkinan besar, tindakan Tanujiwa ini didasari penghargaan yang besar terhadap Pakuan. Lambat laun rasa cinta terhadap Pajajaran dan terhadap masyarakatnya mulai terpupuk, ia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap dapat mengganggu kompeni. Apalagi perasaan bencinya terhadap Scipio, yang notabenenya seorang sersan, yang sering memerintah dengan semena-mena padahal jabatan Tanujiwa lebih tinggi (letnan). Hal tersebut menimbulkan kesadaran akan kesamaan nasib sebangsa dalam diri Tanujiwa. Tanujiwa membantu pemberontakan yang dipimpin oleh Haji Perwatasari, dan balik mengangkat senjata melawan kompeni. Walaupun pada akhirnya kalah, dan Tanujiwa dibuang ke Tanjung Harapan (Afsel).

Karena pemberontakan tersebut, dalam Babad Bogor (1925), yang dibuat pada masa kolonial, tidak mencantumkan nama Tanujiwa sebagai bupati pertama. Dalam Babad tersebut dicantumkan Mentengkara atau Mertakara kepala Kampung Baru yang ketiga (1706-1718) sebagai bupati pertama Bogor. Ia adalah putera Tanujiwa (menurut Den Haan).

Tentang tokoh Ki Mas Tanu terdapat 2 (dua) versi yang menceritakan tentang Ki Mas Tanu. Pertama versi Saleh Danasasmita, dalam bukunya Sejarah Bogor (1983). Kedua versi Mikihiro Moriyamayang mencatatnya dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2005).

Versi Saleh

Menurut Saleh dalam bukunya Sejarah Bogor (1983: 83-84), yang didasarkan pada tulisan MA. Salmun dalam edisi awal majalah Intisari, Ki Mas Tanu dalam Ayang-ayang Gung mengacu kepada Tanujiwa yang merintis pendirian kampung-kampung pertama di daerah Bogor.

Tentang Tanuwijaya, Saleh mengacu pada buku C.H.F. Riesz, De Geschiedenis van Buitenzorg (1887). Menurut Riesz, Tanuwijaya adalah orang Sumedang yang diperintah oleh Camphuijs untuk membabad hutan Pajajaran. Hasilnya ia bisa mendirikan kampung-kampung baru. Di antaranya ada yang di Cipinang (Jatinegara). Selain itu, juga kampung-kampung yang menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor. Kampung-kampung yang dimaksud adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranangsiang, Parung Banteng dan Cimahpar.

Tetapi pembabatan hutan itu tidak berlanjut. Sebab Tanujiwa menghormati peninggalan kerajaan Pajajaran, sehingga dihentikkan di sisi utara Sungai Ciliwung. Rasa hormat ini bermula ketika ia berkunjung ke bekas ibu kota Pakuan bersama Sersan Scipio. Dengan demikian, ia ingin mendekatkan diri dengan peninggalan Siliwangi.

Penghormatan kepada kerajaan Pajajaran itu berujung kepada ketidaktaatannya kepada VOC. Apalagi ia merasa dianak-tirikan Kumpeni, sebab ia yang letnan harus tunduk kepada Sersan Scipio yang kulit putih. Akhirnya si “Luitenant der Javanen” ini pun menjadi sekutu dan pelindung Haji Prawatasari yang berjuang melawan VOC. Tetapi mereka kalah dan Tanuwijaya dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika.

Kepahlawanan Ki Mas Tanu ini menjadi polemik antara “Kuncen Bandung” Haryoto Kunto dan sastrawan Sunda Aan Merdeka Permana beberapa tahun yang lalu. Haryoto Kunto dalam tulisannyaGung Goongna Rame (PR 19 Februari 1998) menyatakan bahwa Ki Mas Tanu yang berdarah muda, ambisius dan setia kepada Kumpeni Belanda itu, dijuluki oleh warga masyarakat kala itu sebagai “Si Raja Tega.” Kekejaman dan kelaliman Ki Mas Tanu diperlihatkannya ketika ia memimpin kerja rodi, susuk bendung babad jalan, membangun dan melakukan pengerasan jalan antara Bogor sampai Batavia.

Sebagai balasannya, Aan Merdeka dalam tulisannya Benarkah Ki Mas Tanu Pengkhianat? (PR, 23 Februari 1998) menganggap Ki Mas Tanu berbeda dengan gambaran tokoh tersebut yang selama ini ada di masyarakat. Menurutnya alasan Ki Mas Tanu bergabung dengan Kompeni bukan lantaran mencari nafkah apalagi mencari jabatan, namun karena kerinduannya akan penelusuran sejarah nenek moyangnya.

Sebab menurut Aan, sesuai dengan wawancaranya dengan Pak Ucang Sumardi dan Tutun Anwar, Ki Mas Tanu berasal dari keluarga bangsawan Sumedanglarang yang notabene masih berkerabat dengan Kerajaan Pajajaran. Bahkan Sumedanglarang menjadi pengganti kerajaan Pajajaran.

Versi Mikihiro

Lain pula pendapat Mikihiro Moriyama. Menurut doktor sastra Sunda jebolan Rijkuniversiteit Belanda 2003 ini dalam karyanya Semangat Baru (2005: 163-164):“Penduduk setempat (Garut-pen) masih mengetahui bahwa keluarga Moesa (RH. Moehamad Moesa - pen) adalah yang terkaya di wilayah itu, dan mereka masih menjalin hubungan dan kerjasama dengan Belanda. Pendek kata, kebanyakan orang berpandangan negatif terhadap Moesa, walaupun beberapa orang menyatakan kekaguman mereka atas sumbangannya dan Holle di bidang pertanian.”

Dan Ayang-ayang Gung, menurut versi Miki sesuai dengan data yang didapatkan, untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh R. Poeradiredja dan M. Soeriadiradja pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa (Eerste Congres voor de Taal, Land- en Volkenkunde van Java ) di Solo pada 1919.

Dalam makalahnya “Bijdrage tot de Kennis der Soendasche taal” (Djawa 4: 401-412), mereka berpendapat bahwa Ayang-ayang Gung dikarang oleh penulisnya untuk mengejek ambisi Moesa yang sudah kelewat batas. Puisi tersebut dinyanyikan dalam kongres tersebut supaya enak didengar.

Tetapi di sisi lain, dalam wawancaranya dengan Soemarna W.S. di Balubur Limbangan pada 25-26 Oktober 1994, Miki mendengar bahwa Ayang-ayang Gung sebenarnya karya Moehamad Moesa sendiri. Moesa khawatir anaknya akan dikalahkan oleh salah seorang lawan politiknya, yaitu kepala distrik Suci yang bernama Tanu. Rupanya Moesa memahami benar arti rumor untuk menjatuhkan orang, sehingga ia berupaya agar nyanyian tersebut dikenal luas. Tetapi malah senjata makan tuan, ia yang mengarangnya jadi bahan ejekan orang.

Kesimpulan

Kedua versi diatas lebih menekankan pada Siapakah tokoh dalam kawih tersebut, sementara para Seniman Sunda pun memberikan penafsiran global mengenai Kawih Ayang-ayang Gung ini, seperti Nano S seniman karawitan kontemporer, yang satu kakinya terbenam di musik tradisional Sunda dan satu kakinya lagi terbenam di musik industri, dalam sebuah tayangan di Stasion TVRI Jabar-Banten melakukan tafsir atas teks lagu dalam bentuk lirik pula, yang bunyinya seperti ini,

Boa-boa numbuk di enya/ ayang-ayang gung nu baheula/ ayang-ayang gung di ayeuna/

nyaritakeun menak/ nyaritakeun pangkat/ nyaritakeun Dalem/ lamun ka Batawi ngemplong/ Goongna rame/ paharus-harus sora jeung jangji/ saha anu jadi wadalna/

rakyat deui rakyat deui/ demi anu disebut kumpeni/ moal kitu jadi kumpenipu?//

Dari teks tersebut, baik yang ditulis secara anonim, yang sering dilagukan oleh anak-anak itu, khususnya di kampung-kampung, seperti yang saya alami ketika masih kecil, maupun yang ditulis oleh Nano S atas tafsirnya itu; keduanya setidaknya tengah bicara soal realitas sosial-politik saat ini, soal rakyat yang kecewa pada sejumlah oknum wakil rakyat yang dipilihnya, yang ternyata tidak amanah. Di samping itu, kecewa pula pada oknum pemimpin yang dipercaya untuk mengelola negara, yang diyakininya bisa memberantas berbagai tindak korupsi, eh ternyata malah melakukan tindak korupsi, lebih mementingkan golongannya sendiri, membiarkan rakyat kecil tersaruk-saruk dihajar naiknya harga-harga, penggusuran, meletusnya berbagai kerusuhan yang seakan-akan tidak pernah bisa diatasi.

Untuk itu tak aneh bila dewasa ini begitu banyak orang yang ingin jadi wakil rakyat, meski tingkah-lakunya yang busuk itu akhirnya terbongkar lewat ijazah palsu. Apa yang bisa diharap dari orang yangmenipu dirinya sendiri semacam itu, bila mereka kelak jadi wakil rakyat? Lewat tafsirnya itu, lebih lanjut Nano S berkata,

Horeng aya nu nyumput dina kekecapan lagu/

ngelingan lajuning laku/

udaganana geus kateguh ku hate/

hayang ucang-ucang angge/

dina korsi goyang di bale gede!//.

Mengapa demikian? Karena,

ucang-ucang angge –

mulung untung di Jakarte/

meunang proyek anu gede –

proyek gede ti panggede/

proyek leutik di Mang Lintrik/

ari gog gog cungungung//

Teks yang ditafsir Nano S itu memang lahir bukan dari kebiasaan umum. Karena itu bila kita mendengarnya tidak menjenuhkan, malah menyegarkan. Unik, karena ia tidak umum, meski telinga kita, mungkin sebagian dari kita, merasa tersengat. Tapi bila dipikir lebih jauh, sesungguhnya apa yang dibicarakan oleh Nano S itu lebih bertitik-tekan kepada kritik yang dimuarakan untuk dirinya sendiri, yang bila jadi wakil rakyat, atau bila diberi kepercayaan untuk memimpin bangsa dan negara ini, adakah ia bisa amanah?. Pertanyaan semacam ini penting diajukan, agar kita tidak merasa benar sendiri.

Setidaknya hal itu diisyaratkan oleh Nano S sendiri, seperti dalam dua baris akhir teks lagunya yang berbunyi, takokak-takokak sambel goang lada/ urang brukbrak urang brukbrak urang sing waspada//. Ini artinya Nano mengharap pula bahwa situasi yang demokratis, terbuka, dan hormat pada hukum itu, bisa benar-benar dilaksanakan oleh segenap bangsa dan negara Indonesia, agar apa yang kita harapkan selama ini bisa berjalan sebagaimana mestinya, yakni negara tanpa anyir darah, tanpa tindak kekerasan, namun tegas dalam menjalankan segala perundang-undangan yang berlaku, yang tentunya bukan untuk dilanggar. Setidaknya demikian tafsir ini hidup dalam tulisan ini; atas teks yang ditafsir Nano dari teks yang anonim itu.

Mungkin itulah sedikit ulasan mengenai Tanujiwa, dan kaitannya dengan kakawihan barudak Ayang Ayang Gung. Tanujiwa mengejar harapan kosong, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (kekuasaan). Bahkan ia rela menggadaikan harga dirinya kepada penjajah, dan diperlakukan semena-mena oleh orang Belanda yang notabenenya berpangkat lebih rendah. Hingga pada akhirnya Tanujiwa sadar, kemudian bersama-sama mengangkat senjata melawan penjajah.

Semoga saja cerita Tanujiwa dalam lirik Ayang Ayang Gung ini sepertinya tidak akan hidup lama di Tatar Sunda, dimana orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Menak yang mendapat kedudukan prestise dalam masyarakat malah seringkali melupakan masyarakat dan sibuk mengejar kekuasaan. Di sisi lain menak ingin dihargai sebagaimana mestinya. Ironi memang, karena itulah yang terjadi. Lihat saja perilaku calon wakil rakyat maupun calon pemimpin kita yang tak jarang melakukan perbuatan rendah, suap-money politic-fitnah-nepotisme-anarki. Lempa lempi lempong Ngadu pipi jeung nu ompong Jalan ka Batawi ngemplong !

Advertisement
Pembahasan Lagu Ayang Ayanggung
Loading...